DINAS PENDIDIKANBerita / Berita Terkini
Pendidikan juga ingin mencetak bos
Oleh arif Sabtu, 29 Maret 2008 14:15:10
Pendidikan di Indonesia tidak sekedar ingin mencetak sumber daya manusia (SDM) pekerja di perusahaan-perusaha an yang melayani kepentingan pemilik modal, tetapi ingin membangun manusia seutuhnya. Disamping mencetak pekerja, pendidikan juga ingin mencetak bos, enterpreneur, pemilik modal, akademisi, peneliti, profesional, dan wartawan. Semua jenis manusia yang dibutuhkan di Indonesia ini ingin kita cetak melalui pendidikan dan bukan hanya pekerja saja.
Pendidikan di Indonesia tidak sekedar ingin mencetak sumber daya manusia (SDM) pekerja di perusahaan-perusaha an yang melayani kepentingan pemilik modal, tetapi ingin membangun manusia seutuhnya. Disamping mencetak pekerja, pendidikan juga ingin mencetak bos, enterpreneur, pemilik modal, akademisi, peneliti, profesional, dan wartawan. "Semua jenis manusia yang dibutuhkan di Indonesia ini ingin kita cetak melalui pendidikan dan bukan hanya pekerja saja."

Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo pada acara silaturahmi dengan para pimpinan media massa di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (26/03/2008) . Kepada rekan-rekan media, Mendiknas mengajak supaya berbagai macam tayangan dan pemberitaan oleh media massa itu bersifat mendidik.

Mendiknas mengatakan, bahwa ketika media massa sedang memberitakan dan menayangkan pada saat yang sama juga sedang mendidik. "Jadi jangan terjadi justru sebaliknya, yang merusak pendidikan. Harus semuanya itu dilakukan dalam rangka mendidik. Bagaimana supaya pendidikan yang dilakukan oleh media itu sinkron dan saling menunjang satu sama lain," katanya.

Di masyarakat negeri maju, lanjut Mendiknas, disamping pendidikan oleh media masa tidak kalah pentingnya adalah pendidikan otodidak yang dilakukan oleh warga negara itu sendiri. Oleh karena itu, peran bacaan menjadi sangat penting. "Di negara-negara maju itu ke manapun seseorang itu bepergian selalu ada bacaan yang belum selesai yang sedang dia baca. Ketika dia menunggu bis, kereta, atau menunggu boarding pesawat dia ada saja bacaannya. Selalu sedang dalam keadaan belajar," katanya.

Menurut Mendiknas, fenomena ini yang dimaksud dengan masyarakat pembelajar (learning society) dan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 sudah mengandung konsep tersebut. Untuk itu, lanjut Mendiknas, maka pendidikan harus untuk semua dan bersifat sepanjang hayat.

Tujuannya adalah agar semua manusia menjadi pembelajar dan tercipta masyarakat pembelajar. "Masyarakat pembelajar bisa menjadi basis bagi ekonomi kreatif yang basis utamanya bukan lagi pertanian, bukan lagi pabrik-pabrik, tetapi manusia itu sendiri yang menjadi pencipta nilai," ujar Mendiknas.

Oleh karena itu, lanjut Mendiknas, harus menciptakan masyarakat yang sebanyak mungkin anggota masyarakat itu adalah masyarakat yang kreatif. Masyarakat kreatif terjadi kalau masyarakat menjadi learning society. Untuk membangunnya tidak mungkin dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama saja. "Peran media massa tidak kalah pentingnya. Saya betul-betul mengajak sinergi. Mari kita menjadi satu gerbong besar membangun dan menjadi lokomotif bagi masyarakat pembelajar menuju ekonomi kreatif," kata Mendiknas. (***)

Sumber: http://setjen.diknas.go.id/
DINAS PENDIDIKAN : http://disdik.padang.go.id
Online version: http://disdik.padang.go.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=12&artid=227