DINAS PENDIDIKANBerita / Berita Terkini
Buku Loak Bantu Pendidikan
Oleh arif Senin, 28 Juli 2008 20:01:17
Mendiknas mengungkapkan, selama ini orang tua siswa terpojokkan dan terpaksa membeli buku - buku baru dan buku yang lama tidak dipakai lagi oleh adiknya. Dengan hadirnya pojok buku bekas di toko - toko buku, kata Mendiknas, pemilik buku bisa menjual bukunya dengan harga murah dan dijual kembali oleh pengusaha buku dengan harga yang diturunkan.
Kebijakan pemerintah tentang Buku Teks Pelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 11 Tahun 2005 menetapkan masa pakai buku teks pelajaran paling sedikit adalah lima tahun. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo mengatakan, kebijakan tersebut ditempuh selain agar buku - buku tersebut masih dapat digunakan oleh siswa angkatan berikutnya, sekaligus untuk menghidupkan toko buku loak.

"Toko buku loak tidak harus toko buku yang spesialisasi jualan toko buku loak. Di toko - toko yang mentereng itu pun wajah sosialnya akan meningkat tinggi sekali ketika ada konter pojokan buku-buku bekas," katanya saat membuka Lokakarya "Menata Kembali Distribusi Buku Indonesia dan Peluang Usaha Membangun 1.000 Toko Buku Mobil di Kabupaten/Kota" di Pusat Buku Indonesia, Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (24/07/2008) .

Mendiknas mengungkapkan, selama ini orang tua siswa terpojokkan dan terpaksa membeli buku - buku baru dan buku yang lama tidak dipakai lagi oleh adiknya. Dengan hadirnya pojok buku bekas di toko - toko buku, kata Mendiknas, pemilik buku bisa menjual bukunya dengan harga murah dan dijual kembali oleh pengusaha buku dengan harga yang diturunkan. "Sehingga yang miskin memiliki akses kepada buku yang kualitasnya sama hanya umurnya saja yang lebih tua," katanya.

Mendiknas mengajak sebanyak mungkin warga negara ikut berpartisipasi dalam proses kreatif pembuatan atau kreasi nilai tambah di industri perbukuan. Hal ini dapat dilakukan  baik pada tingkat penulisan, tingkat percetakan, tingkat penerbitan, tingkat distribusi, dan bahkan pada tingkat pemakainya.

Pada tingkat penulisan, kata Mendiknas, tidak ada monopoli penulisan, sedangkan dari sisi percetakan dan penerbitan adalah mendorong hadirnya sebanyak mungkin percetakan dan penerbit. "Secara alami ketika industri perbukuan kita bikin kompetitif maka harga cenderung menurun. Pada akhirnya yang dilayani  adalah masyarakat pemakai buku," katanya.

Mendiknas meminta, agar para penyusun buku untuk membuat buku yang ramah pemakai kepada para pembacanya, terutama untuk buku teks pelajaran. Harapan tersebut, lanjut Mendiknas, dilatarbelakangi oleh perubahan paradigma di dalam pendidikan dari pengajaran atau teacher center learning kepada paradigma pembelajaran atau student center learning. "Buku pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris barangkali akan lebih user friendly kalau dalam ukuran pocket book (buku saku)," ujarnya.***

Sumber: Pers Depdiknas

DINAS PENDIDIKAN : http://disdik.padang.go.id
Online version: http://disdik.padang.go.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=12&artid=471